Friday, May 23, 2008

Tak Beralasan Acheh Kekurangan Energi

Oleh: Eddy L Suheri

Judul di atas tidaklah mengada, apalagi memahat langit. Walaupun diakui dunia sedang mengalami kekurangan minyak yang mengakibatkan produksi tenaga atau energi dengan minyak sebagai sumber utama menjadi mahal. Harga minyak berkisar antara 130 Dollar Amerika per drum adalah sangat tinggi dan telah berpengaruh dengan ekonomi yang dibangun dari minyak atau petrolium industri. Karena minyak juga menghasilkan berbagai bahan kimia yang selanjutnya di proses untuk bermacam jenis komoditi untuk keperluan manusia sehari-hari. Alhasil, ketika minyak naik, semua kebutuhan rakyat ikut naik.

Tingginya harga minyak dunia bukan hanya disebabkan oleh situasi politik global semata, tetapi terdapat pelbagai penyebab di sana yang ikut memperburuk keadaan. Salah satunya adalah keadaan dunia yang semakin sering menerima bencana dengan jumlah korban massal akhir-akhir ini, juga ikut mengakibatkan ekonomi dunia tidak menentu. Namun penyebab yang utama adalah persediaan minyak dunia yang semakin berkurang. Mungkin hanya mencukupi untuk 25 tahun ke depan, kehabisannya malah lebih awal sekira manusia tidak mengurangi pemakaian kenderaan untuk gaya hidup mewah.

Namun perkara ini bukan begitu susah kalau kita dan rakyat di negara maju mahu mengubah kebiasaan hidup dan ketergantungan dengan minyak bumi, karena manusia sebenarnya dapat menjadi khalifah yang arif di dunia ini. Dengan hidup lebih bertanggung jawab terhadap sesama manusia dan alam sekitarnya.

Rakyat Acheh sebenarnya telah terbiasa hidup dengan alternative energi yang mempunyai banyak cadangan dan tidak berbahaya bagi kesehatan. Dulu di perkampungan banyak orang memakai minyak kelapa atau damar untuk lampu. Kayu mati digunakan untuk memasak. Bahkan suatu kali saya pernah berkata kepada sahabat antarabangsa di Washington; "Sekiranya minyak menjadi sumber penyakit bagi rakyat Acheh yang terus dijajah karena wilayahnya dipenuhi sumur minyak dan gas, maka saya akan meyakinkan rakyat Acheh bahwa kami dapat hidup tanpa menggunakan minyak apabila kami mendapatkan kemerdekaan."

Bagaimana mana itu mungkin terjadi? Selagi kita mahu berpikir dan memiliki hajat bersama, segalanya menjadi mungkin. Sebelum itu kita harus melihat sebab-sebab kekurangan energi di Nanggroe. Rakyat Acheh sendiri memang tidak banyak memakai energi karena suplai yang minim tak menentu pula, di samping tingkat daya beli yang rendah. Meskipun begitu rakyat Acheh masih bisa bernafas tanpa minyak dan elektrik, karena sudah terbiasa hidup dengan keterbatasan sejak berada di bawah pendudukan indonesia.

Kenapa suplai minim energi dan bahan bakar minim? Jika harga minyak dunia merupakan dalih, maka alasan itu sangat menyesatkan apabila harga minyak naik di dalam wilayah pendudukan indonesia yang merupakan negara penghasil minyak. Jika hasil bumi dimaksud untuk memakmurkan rakyat, maka kebutuhan rakyat untuk sumber bahan bakar yang terjangkau dan terkawal adalah tugas pokok negara. Kalau negara melalaikan tanggung jawabnya, berarti negara itu sudah tidak berfungsi. Lain halnya kalau harga minyak naik di negara-negara Amerika Utara dan Eropa Barat, sebab mereka bukanlah negara penghasil minyak yang tergabung dalam OPEC. Anehnya, justru negara-negara tersebut yang mempunyai cadangan energi dan distribusi yang terjamin untuk kebutuhan rakyat mereka, karena sistem pemerintahan yang mereka miliki sangat teratur dan efisien.

Paling tidak di sana ada dua kenyataan yang membuat pasok minyak dan energi di Acheh terbengkalai. Pertama, mutu minyak di Acheh dan nusantara adalah yang terbaik di dunia, sehingga pihak Pertamina yang memonopoli minyak rakyat dan bertindak untuk dan atas nama kolonial indonesia telah menjual minyak domestik ke luar negeri dan mendatangkan minyak kualiti rendah dari Arab untuk kebutuhan dalam negeri. Padahal dalam kitab undang-undang 1945 negara kolonial itu terdapat ketentuan hukum yang menyatakan hasil bumi dan lautan yang terdapat di wilayah jajahannya dikuasai oleh negara dan diperuntukkan "sebesar-besarnya" untuk seluruh rakyat. Sementara pada kenyataan, hasil alam tersebut diperuntukkan sebesar-besarnya untuk para pembesar indonesia dan keluarga mereka serta keluarga Pertamina dan rekan bisnis mereka.

Kedua, untuk menghancurkan ekonomi Acheh dan selanjutnya menciptakan ketergantungan rakyat Acheh pada pemerintah kolonial dengan menjadi pegawai, kontraktor dan sebagainya, indonesia perlu menciptakan gangguan keamanan dan kenyamanan di Acheh agar daerah itu tidak diminati oleh penanam modal dan jauh dari keberadaan iklim ekonomi yang stabil secara menyeluruh. Bentuk gangguan kedamaian dan kenyamanan rakyat itu dilakukan dengan menciptakan gangguan penyaluran minyak, penaikan harga minyak, serta tenaga listrik dalam keadaan hidup dan mati.

Pengutipan liar oleh TNI/Polri dan aparatus pemerintah kolonial di Acheh, dan keterlibatan militer dan para militer yang terlalu banyak dalam kehidupan sivil di Acheh, juga menjadi sumber ganguan kedamaian. Sehingga ekonomi daerah sangat rendah dan rakyat tidak bisa hidup lebih independen.

Tenaga Alternative
Sebelum kita masuki persoalan bagaimana rakyat Acheh dapat hidup tanpa minyak bumi dan gas sebagai sumber energi, dan sekaligus dapat menjadi model kehidupan rakyat dunia dengan gaya hidup kita yang menjaga kelestarian alam, terlebih dahulu kita perlu tahu kenapa ketergantungan terhadap minyak adalah tidak bermoral. Sesuatu yang tidak bermoral adalah aib dan mencelakakan.

Permasalahaannya adalah minyak bumi bukan hanya komoditi paling berbahaya bagi manusia karena dapat memicu perang dalam memperebutkan sumber, tetapi juga berbahaya bagi kesehatan manusia dan bumi ini, karena suhu bumi bertambah akibat tingginya karbon dioxide pada lapisan atmosphere yang disebabkan oleh pembakaran minyak. Karbon ini yang semestinya dapat diserap oleh hutan tropik, bukanlah suatu jalan keluar. Karena persediaan hutan dunia juga semakin kecil. Oleh sebab itu ketergantungan pada minyak dan gas haruslah dihentikan segera demi generasi kini dan nanti dan kelangsungan bumi ini. Meskipun dianggap membantu kehidupan manusia, tetapi mudharat yang didatangkan oleh minyak dan gas lebih besar daripada faedah yang kita nikmati. Ianya adalah sangat semu.

Jadi apa jawaban terhadap tenaga atau sumber bahan bakar alternative? Untuk menjawab persoalan ini, kita tidak memerlukan wakil dari perusahaan elektrik negara kolonial (PLN) untuk memberi ceramah tentang sumber tenaga alternative. Seperti yang diberitakan media di Sabang beberapa waktu lalu di mana seorang perwakilan PLN meminta rakyat untuk mendapatkan tenaga alternative, pernyataan itu keluar ketika rakyat mendesak perusahaan pemilik hak monopoli elektrik tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tugas PLN bukan untuk mengalihkan pemberitaan media tentang kekurangan listrik di Acheh yang menjadi tanggung jawab perusahaan negara itu. Sejauh mereka memiliki hak spesial di Acheh, mereka harus bertanggung jawab untuk menyediakan kebutuhan rakyat. Jika tidak mampu, PLN harus angkat kaki di Acheh untuk memberi jalan bagi perusahaan lokal yang mampu memenuhi kebutuhan rakyat.

Kita bangsa Acheh sudah mempunyai rancangan tersebut yang akan kita jalankan di Acheh sekiranya kondisi telah memungkinkan. Untuk tenaga elektrik Acheh dapat memanfaatkan tenaga yang dapat diperbaharui (renewable energy) dari sungai, laut, matahari, angin dan panas bumi. Kesemua itu telah lebih mencukupi untuk kebutuhan tenaga untuk ekonomi dan kesejahteraan rakyat Acheh. Bahkan kelebihan elektrik tersebut dapat diekspor ke wilayah lain.

Sementara untuk kebutuhan transportasi umum dan kenderaan pribadi, dapat menjadikan gas , tenaga matahari yang untuk sementara waktu masih mencukupi. Penggunaan Biodiesel, untuk jangka panjang dapat dihasilkan dari minyak kelapa, kelapa sawit, buah jarak dan sebagainya. Sejauh kita memiliki pemerintahan sendiri yang berkuasa, konsep ekonomi Acheh yang ramah lingkungan dan mempunyai daya saing tinggi bukanlah sekedar khayalan. Hanya dengan kemerdekaan untuk menjalankan kehidupan yang bebas dan teratur kita dapat hidup dalam kehidupan yang lebih sejahtera dan berkepedulian terhadap semesta alam serta kehidupan semasa umat manusia.

Untuk mencapai taraf kehidupan dimaksud, kita mesti mengamati cara hidup di negara maju yang beretika, seperti di Swedia dan Islandia. Kedua negara itu mempunyai tingkat kepedulian yang tinggi terhadap alam sekitar dan mereka telah merespon dengan kecepat terhadap bahaya panas bumi. Yaitu dengan konsep memimpin dengan memberi contoh yang baik.

Di Islandia (Iceland), rakyat yang hidup mereka sangat tergantung dengan energi karena bertempatan di daerah es kutub utara yang senantiasa memerlukan pemanas ruangan, tetapi mereka tidak kekurangan listrik dan bahan bakar kenderaan. Mereka memakai hydrogen dari panas bumi untuk elektrik dan kenderaan. Di Sweden juga tak kalah hebat, mereka mencadangkan dalam tempo terdekat akan terbebas dari ketergantungan pada minyak. Di mana tenaga alternative telah mulai digunakan secara berperingkat untuk menggantikan tenaga minyak bumi yang mahal lagi berbahaya terhadap peradaban bumi dan manusia. Kereta api menggunakan elektrik dihasilkan dengan tenaga matahari, angin, dan nuklir. Malah mereka mencadangkan untuk menyerap energi panas yang dikeluarkan oleh tubuh-tubuh manusia yang ribuan diantara mereka berlalu-lalang di stasion sentral Stockholm setiap hari. Energi tersebut selanjutnya ditransfer ke alat penghangat ruangan pada beberapa bangunan di tengah kota Stockholm, pada musim dingin.

Rakyat Acheh sepatutnya mulai bergerak sekarang untuk membangun alternative energi dari aliran sungai dan matahari, namun sayangnya sistem pemerintahan kolonial belum mendukung usaha kita untuk mensejahterakan rakyat. Kita memerlukan sumber daya manusia Acheh yang dapat melakukan kempen di lapangan agar kerja-kerja kolektiv yang tidak melibatkan pemerintah kolonial dapat terlaksana, sehingga kita sukses dalam memberi alternativ energi untuk rakyat Acheh. Karena meskipun kita masih hidup di bawah penjajahan, tidak seharusnya rakyat kita yang hidup dijantung energi harus menderita akibat keterbatasan persediaan untuk mereka. Jangan seperti pepatah "tikus mati kelaparan dalam berandang, itik mati kehausan di tengah danau. Sebab sesungguhnya merekalah yang lebih berhak daripada rakyat di berbagai kota besar di indonesia yang tidak mempunyai sumber bahan bakar tetapi sangat jarang terputus energi. Lebih parah lagi, tanpa persediaan energi yang cukup, jangan bermimpi untuk meningkatkan produktiviti dan iklim ekonomi yang maju untuk kesejahteraan rakyat.

0 comments: