Friday, November 14, 2008

FreeAcheh TV


Watch live video from freeachehtv on Justin.tv

Saturday, October 11, 2008

A GREAT GIG in Acheh's Sky


Maybe not even a gig, but a continuation of gigantic concerts and dramas from a public figure that has been so mysterious in the past 30 years, this media and public even is directed by a group of oligarchs.

Not many newspapers and news channels have been able to meet him in person and publish a details piece of article. The only one that I remember was an interview with FEER magazine, where he blames Indonesia for its wrongdoing in Acheh.

The figure of Hasan Tiro, once again immerse in the case of Acheh when he returned to Acheh for the first time in around 28 years. The visit of the elderly leader of former GAM was part of political show conducted by the oligarch GAM who seem to have lost their reputation and ought to restore it once again.

The nation that was hit by earth quake and massive tidal waves, the tsunami in December 2004, has yet to achieve a full political solution with colonial Indonesia despite the 'peace' agreement signed three years ago.

Immediately after the calamity, a plan for peace between Acheh and Indonesia was arranged. Without consent of its entire population, a peace deal was signed in Helsinki, and the oligarch led by Malek Mahmud, signed an agreement on behalf of the Achenese with a claim that Hasan Tiro was committed to the peace process. A claim is being questioned by some Achenese, who know that His Excellency is not in the same condition as prior to 1997. In that years a stroke hits him, although with a decent threatment and therapy, he no longer has his best ability in producing his thought and writing.

No matter how bad his situation, everyone deserves to know the truth. But the truth has been denied to those of Achenese people who filled streets of Banda Acheh to hear his voice and look at the face of their inspiration. But the event has been directed, and manipulized in any manner, intended by the oligarch. The best evidence so far is the RCTI GATE where the station has broadcasted intrepretation words of interview on many Achenese's tv screens, rather than provide the actual texts of it. The station attempts to broadcast an interview with their opinion in the transcript that translated in bahasa. Which is very contradict to the true translation in Bahasa.

The show must go on, and the show in Acheh's sky with DR. Hasan Tiro as a single dominant character, who is being potrayed as a perfect figure still despite his condition as an elderly person. Everyone believes that nothing can be hidden forever from the public sight, and the journalist and media that keep the truth will pay their price for betraying their own codes of ethic.

Friday, May 23, 2008

Tak Beralasan Acheh Kekurangan Energi

Oleh: Eddy L Suheri

Judul di atas tidaklah mengada, apalagi memahat langit. Walaupun diakui dunia sedang mengalami kekurangan minyak yang mengakibatkan produksi tenaga atau energi dengan minyak sebagai sumber utama menjadi mahal. Harga minyak berkisar antara 130 Dollar Amerika per drum adalah sangat tinggi dan telah berpengaruh dengan ekonomi yang dibangun dari minyak atau petrolium industri. Karena minyak juga menghasilkan berbagai bahan kimia yang selanjutnya di proses untuk bermacam jenis komoditi untuk keperluan manusia sehari-hari. Alhasil, ketika minyak naik, semua kebutuhan rakyat ikut naik.

Tingginya harga minyak dunia bukan hanya disebabkan oleh situasi politik global semata, tetapi terdapat pelbagai penyebab di sana yang ikut memperburuk keadaan. Salah satunya adalah keadaan dunia yang semakin sering menerima bencana dengan jumlah korban massal akhir-akhir ini, juga ikut mengakibatkan ekonomi dunia tidak menentu. Namun penyebab yang utama adalah persediaan minyak dunia yang semakin berkurang. Mungkin hanya mencukupi untuk 25 tahun ke depan, kehabisannya malah lebih awal sekira manusia tidak mengurangi pemakaian kenderaan untuk gaya hidup mewah.

Namun perkara ini bukan begitu susah kalau kita dan rakyat di negara maju mahu mengubah kebiasaan hidup dan ketergantungan dengan minyak bumi, karena manusia sebenarnya dapat menjadi khalifah yang arif di dunia ini. Dengan hidup lebih bertanggung jawab terhadap sesama manusia dan alam sekitarnya.

Rakyat Acheh sebenarnya telah terbiasa hidup dengan alternative energi yang mempunyai banyak cadangan dan tidak berbahaya bagi kesehatan. Dulu di perkampungan banyak orang memakai minyak kelapa atau damar untuk lampu. Kayu mati digunakan untuk memasak. Bahkan suatu kali saya pernah berkata kepada sahabat antarabangsa di Washington; "Sekiranya minyak menjadi sumber penyakit bagi rakyat Acheh yang terus dijajah karena wilayahnya dipenuhi sumur minyak dan gas, maka saya akan meyakinkan rakyat Acheh bahwa kami dapat hidup tanpa menggunakan minyak apabila kami mendapatkan kemerdekaan."

Bagaimana mana itu mungkin terjadi? Selagi kita mahu berpikir dan memiliki hajat bersama, segalanya menjadi mungkin. Sebelum itu kita harus melihat sebab-sebab kekurangan energi di Nanggroe. Rakyat Acheh sendiri memang tidak banyak memakai energi karena suplai yang minim tak menentu pula, di samping tingkat daya beli yang rendah. Meskipun begitu rakyat Acheh masih bisa bernafas tanpa minyak dan elektrik, karena sudah terbiasa hidup dengan keterbatasan sejak berada di bawah pendudukan indonesia.

Kenapa suplai minim energi dan bahan bakar minim? Jika harga minyak dunia merupakan dalih, maka alasan itu sangat menyesatkan apabila harga minyak naik di dalam wilayah pendudukan indonesia yang merupakan negara penghasil minyak. Jika hasil bumi dimaksud untuk memakmurkan rakyat, maka kebutuhan rakyat untuk sumber bahan bakar yang terjangkau dan terkawal adalah tugas pokok negara. Kalau negara melalaikan tanggung jawabnya, berarti negara itu sudah tidak berfungsi. Lain halnya kalau harga minyak naik di negara-negara Amerika Utara dan Eropa Barat, sebab mereka bukanlah negara penghasil minyak yang tergabung dalam OPEC. Anehnya, justru negara-negara tersebut yang mempunyai cadangan energi dan distribusi yang terjamin untuk kebutuhan rakyat mereka, karena sistem pemerintahan yang mereka miliki sangat teratur dan efisien.

Paling tidak di sana ada dua kenyataan yang membuat pasok minyak dan energi di Acheh terbengkalai. Pertama, mutu minyak di Acheh dan nusantara adalah yang terbaik di dunia, sehingga pihak Pertamina yang memonopoli minyak rakyat dan bertindak untuk dan atas nama kolonial indonesia telah menjual minyak domestik ke luar negeri dan mendatangkan minyak kualiti rendah dari Arab untuk kebutuhan dalam negeri. Padahal dalam kitab undang-undang 1945 negara kolonial itu terdapat ketentuan hukum yang menyatakan hasil bumi dan lautan yang terdapat di wilayah jajahannya dikuasai oleh negara dan diperuntukkan "sebesar-besarnya" untuk seluruh rakyat. Sementara pada kenyataan, hasil alam tersebut diperuntukkan sebesar-besarnya untuk para pembesar indonesia dan keluarga mereka serta keluarga Pertamina dan rekan bisnis mereka.

Kedua, untuk menghancurkan ekonomi Acheh dan selanjutnya menciptakan ketergantungan rakyat Acheh pada pemerintah kolonial dengan menjadi pegawai, kontraktor dan sebagainya, indonesia perlu menciptakan gangguan keamanan dan kenyamanan di Acheh agar daerah itu tidak diminati oleh penanam modal dan jauh dari keberadaan iklim ekonomi yang stabil secara menyeluruh. Bentuk gangguan kedamaian dan kenyamanan rakyat itu dilakukan dengan menciptakan gangguan penyaluran minyak, penaikan harga minyak, serta tenaga listrik dalam keadaan hidup dan mati.

Pengutipan liar oleh TNI/Polri dan aparatus pemerintah kolonial di Acheh, dan keterlibatan militer dan para militer yang terlalu banyak dalam kehidupan sivil di Acheh, juga menjadi sumber ganguan kedamaian. Sehingga ekonomi daerah sangat rendah dan rakyat tidak bisa hidup lebih independen.

Tenaga Alternative
Sebelum kita masuki persoalan bagaimana rakyat Acheh dapat hidup tanpa minyak bumi dan gas sebagai sumber energi, dan sekaligus dapat menjadi model kehidupan rakyat dunia dengan gaya hidup kita yang menjaga kelestarian alam, terlebih dahulu kita perlu tahu kenapa ketergantungan terhadap minyak adalah tidak bermoral. Sesuatu yang tidak bermoral adalah aib dan mencelakakan.

Permasalahaannya adalah minyak bumi bukan hanya komoditi paling berbahaya bagi manusia karena dapat memicu perang dalam memperebutkan sumber, tetapi juga berbahaya bagi kesehatan manusia dan bumi ini, karena suhu bumi bertambah akibat tingginya karbon dioxide pada lapisan atmosphere yang disebabkan oleh pembakaran minyak. Karbon ini yang semestinya dapat diserap oleh hutan tropik, bukanlah suatu jalan keluar. Karena persediaan hutan dunia juga semakin kecil. Oleh sebab itu ketergantungan pada minyak dan gas haruslah dihentikan segera demi generasi kini dan nanti dan kelangsungan bumi ini. Meskipun dianggap membantu kehidupan manusia, tetapi mudharat yang didatangkan oleh minyak dan gas lebih besar daripada faedah yang kita nikmati. Ianya adalah sangat semu.

Jadi apa jawaban terhadap tenaga atau sumber bahan bakar alternative? Untuk menjawab persoalan ini, kita tidak memerlukan wakil dari perusahaan elektrik negara kolonial (PLN) untuk memberi ceramah tentang sumber tenaga alternative. Seperti yang diberitakan media di Sabang beberapa waktu lalu di mana seorang perwakilan PLN meminta rakyat untuk mendapatkan tenaga alternative, pernyataan itu keluar ketika rakyat mendesak perusahaan pemilik hak monopoli elektrik tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tugas PLN bukan untuk mengalihkan pemberitaan media tentang kekurangan listrik di Acheh yang menjadi tanggung jawab perusahaan negara itu. Sejauh mereka memiliki hak spesial di Acheh, mereka harus bertanggung jawab untuk menyediakan kebutuhan rakyat. Jika tidak mampu, PLN harus angkat kaki di Acheh untuk memberi jalan bagi perusahaan lokal yang mampu memenuhi kebutuhan rakyat.

Kita bangsa Acheh sudah mempunyai rancangan tersebut yang akan kita jalankan di Acheh sekiranya kondisi telah memungkinkan. Untuk tenaga elektrik Acheh dapat memanfaatkan tenaga yang dapat diperbaharui (renewable energy) dari sungai, laut, matahari, angin dan panas bumi. Kesemua itu telah lebih mencukupi untuk kebutuhan tenaga untuk ekonomi dan kesejahteraan rakyat Acheh. Bahkan kelebihan elektrik tersebut dapat diekspor ke wilayah lain.

Sementara untuk kebutuhan transportasi umum dan kenderaan pribadi, dapat menjadikan gas , tenaga matahari yang untuk sementara waktu masih mencukupi. Penggunaan Biodiesel, untuk jangka panjang dapat dihasilkan dari minyak kelapa, kelapa sawit, buah jarak dan sebagainya. Sejauh kita memiliki pemerintahan sendiri yang berkuasa, konsep ekonomi Acheh yang ramah lingkungan dan mempunyai daya saing tinggi bukanlah sekedar khayalan. Hanya dengan kemerdekaan untuk menjalankan kehidupan yang bebas dan teratur kita dapat hidup dalam kehidupan yang lebih sejahtera dan berkepedulian terhadap semesta alam serta kehidupan semasa umat manusia.

Untuk mencapai taraf kehidupan dimaksud, kita mesti mengamati cara hidup di negara maju yang beretika, seperti di Swedia dan Islandia. Kedua negara itu mempunyai tingkat kepedulian yang tinggi terhadap alam sekitar dan mereka telah merespon dengan kecepat terhadap bahaya panas bumi. Yaitu dengan konsep memimpin dengan memberi contoh yang baik.

Di Islandia (Iceland), rakyat yang hidup mereka sangat tergantung dengan energi karena bertempatan di daerah es kutub utara yang senantiasa memerlukan pemanas ruangan, tetapi mereka tidak kekurangan listrik dan bahan bakar kenderaan. Mereka memakai hydrogen dari panas bumi untuk elektrik dan kenderaan. Di Sweden juga tak kalah hebat, mereka mencadangkan dalam tempo terdekat akan terbebas dari ketergantungan pada minyak. Di mana tenaga alternative telah mulai digunakan secara berperingkat untuk menggantikan tenaga minyak bumi yang mahal lagi berbahaya terhadap peradaban bumi dan manusia. Kereta api menggunakan elektrik dihasilkan dengan tenaga matahari, angin, dan nuklir. Malah mereka mencadangkan untuk menyerap energi panas yang dikeluarkan oleh tubuh-tubuh manusia yang ribuan diantara mereka berlalu-lalang di stasion sentral Stockholm setiap hari. Energi tersebut selanjutnya ditransfer ke alat penghangat ruangan pada beberapa bangunan di tengah kota Stockholm, pada musim dingin.

Rakyat Acheh sepatutnya mulai bergerak sekarang untuk membangun alternative energi dari aliran sungai dan matahari, namun sayangnya sistem pemerintahan kolonial belum mendukung usaha kita untuk mensejahterakan rakyat. Kita memerlukan sumber daya manusia Acheh yang dapat melakukan kempen di lapangan agar kerja-kerja kolektiv yang tidak melibatkan pemerintah kolonial dapat terlaksana, sehingga kita sukses dalam memberi alternativ energi untuk rakyat Acheh. Karena meskipun kita masih hidup di bawah penjajahan, tidak seharusnya rakyat kita yang hidup dijantung energi harus menderita akibat keterbatasan persediaan untuk mereka. Jangan seperti pepatah "tikus mati kelaparan dalam berandang, itik mati kehausan di tengah danau. Sebab sesungguhnya merekalah yang lebih berhak daripada rakyat di berbagai kota besar di indonesia yang tidak mempunyai sumber bahan bakar tetapi sangat jarang terputus energi. Lebih parah lagi, tanpa persediaan energi yang cukup, jangan bermimpi untuk meningkatkan produktiviti dan iklim ekonomi yang maju untuk kesejahteraan rakyat.

Wednesday, May 21, 2008

Lagi...soal energi (Krisis Tenaga di Jantung Energi II)

Hari ini berita di sebuah harian terbitan Kutaradja menyiarkan tentang issu kekurangan bahan bakar minyak di di Nanggroe. Krisis itu mengakibatkan kegiatan ekonomi dan nafkah rakyat terhenti, terutama kaum nelayan dan angkutan umum yang merupakan urat nadi ekonomi.

Adapun krisis tersebut membuktikan kegagalan sistem pemerintahan indonesia di Acheh. Meskipun self-government yang katanya memberi hak pengelolaan lebih besar bagi rakyat Acheh, namun kenyataan yang terlihat hari ini sedikitpun tak dapat mendamaikan rakyat.

Kekurangan minyak dan aksi menimbun minyak oleh para lintah darat dapat terjadi di daerah perang dan tidak ada sumber minyak, namun di Acheh tidak demikian. Dengan kapasiti minyak yang ada, selayaknya Acheh mempunyai beberapa kilang penyulingan minyak, yang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat, tetapi juga bisa menyerap tenaga kerja dari putra-putri Acheh.

Di tanah yang kata Marti Ahtisaari perdamaian di sini berjalan dengan baik. Tetapi situasi yang nyata adalah rakyat terus berada dalam resah akibat hukum yang tak berjalan semestinya, aparatus negara dan militer masih memainkan peran dalam kejahatan yang menggangu penyaluran komoditi. Dari itu, rakyat selalu mendapati sejumlah harga tidak menentu dan tidak ada suatu aturan yang ditegakkan.

Dalam situasi seperti ini, seharusnya rakyat Acheh mengambil tindakan bersama untuk membentuk perusahan minyak sendiri dan menghentikan monopoli Pertamina di Acheh, agar dapat memenuhi kebutuhan seluruh bangsa Acheh akan energi.

Saturday, May 17, 2008

Krisis Tenaga di Jantung Energi

Energi adalah suatu masalah di Acheh selain transportasi, sekalipun dari tanah itu minyak dan gas alam diangkut berkapal-kapal sepanjang musim sejak tahun 1970-an. Rakyat miskin sudah biasa berantrian untuk membeli minyak tanah dan bensin, bahkan adakala tidak dapat mendapatkan gas. Bahkan yang terburuk adalah ketidak cukupan tenaga listrik bagi penduduk di kampung dan kota.


Perusahaan listrik Indonesia di Acheh yang mendapat hak monopoli telah gagal mencukupi kebutuhan tenaga listrik bagi penduduk dan sektor bisnis yang semestinya sangat vital untuk kebutuhan rakyat dan kemajuan ekonomi. Menyakitkan, dengan alasan kekurangan bahan bakar di tanah yang berjuta kubik gas dan minyak bumi diproduksi. Malah hasil minyak di Acheh akan meningkat setelah blok minyak di Peureulak mulai dikuras.

Acheh sebagai zona penghasil energi adalah pasti, ini akan bertambah sekiranya sumber minyak di perairan Sinabang dapat diambil. Akan tetapi di ibukota Acheh sekalipun listrik masih padam setiap minggu. Padahal kebutuhan bahan bakar dari minyak dan gas tersedia di depan mata. Kemana gas dan minyak? Rakyat bukan saja tidak mendapat kesejahteraan dari bagi hasil minyak dan gas, tapi juga tak memperoleh kebutuhan tenaga listrik yang sesungguhnya dapat dihasilkan dengan persediaan minyak dan gas yang begitu banyak di Acheh.

Friday, May 16, 2008

Kita dan Ladang Binatang

Oleh: Junus Laôt Bhè

“Komrad sekalian, sebagaimana telah kalian dengar, saya mendapat mimpi aneh kemarin malam, yang nanti akan saya ungkapkan. Sebelum itu, ada sesuatu yang lain untuk dibahas. Karena saya tidak mungkin hidup bersama kalian dalam waktu yang lebih lama, maka adalah suatu kewajiban untuk menyalurkan pedoman hidup dan kebijaksanaan yang saya dapat, karena saya telah diberi umur panjang dan banyak waktu untuk berpikir. Di mana saya telah memahami hakikat dari kehidupan di dunia dan kehidupan kita para binatang, dan karena itulah, saya hendak kemukakan kepada kalian semua malam ini”.

Demikian si Major, seekor babi putih yang sudah lanjut usia dan dituakan, membuka orasinya dengan suara, meskipun terdengar lemah, namun penuh semangat.

Pertemuan akbar para binatang tersebut bertempat di sebuah kandang besar di Ladang Manor, ketika tuan Jones, si pemilik ladang tertidur. Semua hewan piaraan yang terdiri dari ayam, itik, lembu, kuda, keledai dan lain sebagainya, memenuhi ruang utama. Major memaparkan sebuah orasi politik, yang kemudian menjadi pidato terakhirnya sebelum menjemput maut.

“Kenyataan hidup para binatang piaran adalah memprihatinkan, diperbudak dan berumur pendek.” Lanjut Major. Ia, kemudian membahas panjang lebar tentang perlakuan manusia terhadap bangsa-bangsa binatang, yang susunya diperas saban hari, telurnya dijual, yang hidup mereka dipersingkat, yang tenaganya dipaksa, dan setelah ianya lemah dan tidak diperlukan lagi, manusia akan memotongnya dengan kejam untuk selanjutnya dimakan. Untuk mengakhiri kekejian itu, hanya ada satu cara: manusia harus disingkirkan. “Lawan!” Pekik sang Major.

Oleh sebab suatu perjuangan tidak memadai dengan memberontak semata, lalu tuntunan, aturan dan ikrar bersama perlu dibuat. Major menuturkan beberapa perkara yang harus dipatuhi oleh bangsa-bangsa binatang yang antara lain adalah: Selalu ingat akan permusuhan terhadap manusia dan berbagai cara mereka; yang berkaki dua adalah musuh dan yang berkaki empat atau bersayap adalah kawan; Dalam melawan manusia kalian tidak boleh meniru gaya manusia, bahkan ketika kau berhasil mengalahkan dia; Jangan pernah meniru kebiasaan manusia yang tidak bermoral; Di atas semua itu, tiada binatang yang bisa menjadi tirani bagi binatang yang lain; Pandai atau tidak, lemah atau kuat, semua bersaudara, dan tidak sekali-kali membunuh sesama binatang; Semua binatang adalah sederajat.

Major lalu membuka tabir mimpinya. Dalam mimpi dia ternampak kehidupan para binatang nan cerah ketika manusia hilang di muka bumi ini. Kemudian Major mengajak semua hadirin menyanyikan bait-bait lagu revolusi, lagu pusaka yang menurutnya sudah lama terlupakan. Dan akibat paduan suara mereka yang bergaung keras dan menembus dinding, membuat tuan Jones terjaga. Dia seketika memuntahkan peluru dari senapan panjangnya yang serta merta membubarkan acara perkumpulan massal tersebut.

Berselang beberapa hari kemudian, Major meninggal dunia. Tinggallah para binatang dengan rencana revolusi yang kini dipimpin oleh bangsa babi lainnya. Snowball, seekor babi putih yang terbilang pandai mengambil alih komando, dibantu oleh seekor babi hutan hitam yang licik bernama Napoleon.

Singkat cerita, lewat suatu rencana yang tersusun rapi, bangsa-bangsa binatang di ladang tersebut bersatu padu melancarkan pemberontakan terhadap pemilik ladang, si manusia penjajah yang serakah itu telah dikalahkan dan angkat kaki dari ladangnya. Beberapa agresi manusia berikutnya dapat dipukul mundur. Semua penghuni ladang berpikir kini saatnya bagi seluruh para bintang untuk menikmati kemerdekaan yang dijanjikan.

Namun sebelum hasrat itu menjadi kenyataan, bahaya lain datang menghadang. Petaka yang lahir akibat kerakusan oleh pengkhianat dari bangsa binatang itu sendiri. Tatkala Snowball sedang terus merancang pembangunan ladang yang sekarang telah berganti nama menjadi Ladang Binatang, Napoleon si babi licik, juga sibuk mengatur strategi untuk merebut kekuasaan yang selanjutnya mengkhianati sumpah bersama dengan menjadi tiran atas binatang yang lain.

Siasat didapat. Napoleon berhasil menyembunyikan beberapa ekor anak anjing yang selanjutnya dilatih menjadi serdadu atau polisi rahasia yang buas, untuk membunuh lawan politik dan menakuti rakyatnya. Sasaran pertamanya adalah Snowball. Si pemikir berpengaruh yang bekerja untuk kepentingan seluruh binatang itu telah dibunuh dengan keji, pasukan anjing milik Napolean mengoyak tubuhnya. Untuk membenarkan tindak kejahatannya, Napoleon lantas menuduh Snowball sebagai pengkhianat yang harus dihukum, dan semuanya dianggap selesai tanpa ada suatu penyiasatan terbuka.

Di bawah tirani sang diktator Napoleon, satu persatu amanat perjuangan dan Undang-Undang Dasar Ladang Binatang dihapus dan dirubah. Bangsa babi kini menjadi bagian oligarkhi yang baru. Mereka telah mulai mendiami rumah manusia, tidur di atas katil dan makan makanan lezat, sementara binatang lain yang bekerja keras setiap hari hanya makan lhök dan rumput kering. Sewaktu mereka protes, Squealer si babi gemuk dan ahli bersilat lidah bertindak laksana Harmoko di jaman Soeharto, atau Oom Pasikom di BRA, atau Ustad Musyrik dan Toke KutuBuSuk di tubuh GAM oligarkhi, atau kiranya seperti pegawai hubungan masyarakat di BRR. Yaitu mengusung pembelaan dengan segunung alasan yang ‘sahih’. Katanya, kaum babi memerlukan sedikit kemewahan untuk terus berpikir bagi kemajuan Ladang Binatang. Di lain masa, Squealer rajin melakukan propaganda lewat aneka pesan bersahaja, baik secara langsung atau lewat media. Seperti pemutaran film bapak “pembangunan” Napoleon dan lain sebagainya. Ia pula tak lupa merubah pengertian Undang-Undang kaum binatang.

Pelanggaran terhadap komunike Ladang Binatang semakin terlihat jelas apabila Napoleon telah membuka hubungan dagang dengan manusia. Ia menjual telur bangsa ayam—yang seharusnya illegal--untuk ditukar dengan arak, cerutu dan komoditi yang dilarang oleh perundangan Ladang Binatang. Ketika para ayam melakukan protes, maka hukuman mati telah dijatuhkan. Pasukan anjing Napoleon bertindak sebagai eksekutor.

Meskipun pada akhirnya tahta Napoleon jatuh akibat keserakahan dirinya sendiri, tetapi penderitaan yang panjang telah menindas para binatang penghuni ladang yang berjuang bersamanya, dan sekali lagi mereka perlu bangkit untuk menentang kezaliman.

***
Cerita di atas adalah ringkasan dari satire Animal Farm (Ladang Binatang) yang ditulis Eric Blair alias George Orwell, dan diterbitkan pada tahun yang sama dengan kelahiran Ladang Binatang yang bernama Indonesia, pada 1945.

Meskipun cerita tersebut adalah refleksi dari revolusi Bolshevik yang melahirkan kuasa tirani atau totalitarian baru, Uni Soviet, serta kritikan Orwell terhadap Joseph Stalin yang menyingkirkan Leon Trotsky--lawan politik beraliran social democrat itu, akan tetapi tak dapat disanggah bahwa alur cerita tersebut sesungguhnya melukiskan perjalanan sejarah bangsa Acheh. Suatu bangsa yang terlibat dalam setidaknya tiga kali revolusi dengan maksud membangun Ladang Binatang yang merdeka, makmur dan sejahtera, yang kesemuanya berakhir dengan penderitaan. Akibat dari penjajahan baru oleh sekelompok binatang yang berlagak menjadi tuan baru ke atas bangsa kita.

Pada revolusi pertama, para pemimpin kita telah diperdaya oleh sekelompok para chauvanis jawa-majapahit agar bersatu mendirikan Ladang Binatang Indonesia. Setelah penjajah lari--seumpama Napoleon dan kerabat babinya yang mengkhianati amanat bersama para binatang lain--maka Soekarno dan nasionalis jawa-nya telah membuat bermacam deal politik dan ekonomi dengan Belanda untuk kemewahan pribadi dan kemakmuran kaumnya sendiri, dan mempertahankan basis ekonomi penjajah di Nusantara terutama di Sumatra. Sementara itu, pasukan anjingnya Soekarno di kirim ke Acheh dan wilayah lain di Sumatra untuk menakutkan rakyat di sana. Pada saat yang sama ia menghamburkan uang untuk berbagai projek besar di pulau Jawa, di samping mengawini sejumlah perempuan serta memelihara para gundik.

Sikap licik dan gaya babi hitam Napoleon juga tercermin dalam diri dan rejim Soeharto. Ketika seluruh sanak keluarga, kerabat dan bangsa jawanya menikmati kekayaan dari hasil alam Nusantara, yang seharusnya digunakan bagi kesejahteraan seluruh rakyat. Seperti bangsa babi yang menikmati hasil perjuangan dan kerja keras binatang lain, maka kaum jawa telah menikmati pelbagai kemudahan mulai dari jabatan di sektor pemerintahan sivil dan militer sampai kepada transmigrasi yang rumah, lahan dan makanan disediakan. Sebaliknya, sebagai hadiah untuk Acheh, si koruptor mengirimkan pasukan anjing untuk membunuh mereka yang berusaha menyuarakan keadilan, terutama di masa DOM. Para pemimpin serdadu anjing, yang mampu membunuh banyak nyawa, akan mendapat kenaikan pangkat, jabatan, dan limpahan kekayaan. Begitu pula kemudahan yang didapat oleh para penurut dan kolobrator dari jenis bangsa Acheh sendiri.

Jika kisah para binatang yang menghuni Ladang Binatang hanya menghadapi sekali pengkhianatan, bangsa kita telah mengalami serangkaian pengkhianatan. Mulai dari zaman Soekarno sampai ke Yudhoyono. Pasukan anjing telah berkali-kali dikirim untuk memangsa rakyat kita. Lalu bangsa kita sendiri bangkit dan mengajak untuk kembali berjuang, dan setelah itu rakyat kembali dikhianati. Bukti itu terpampang mulai dari revolusi Tgk Daud sampai ke Tgk Hasan, di mana pengkhianatan terus berjalan.

Masih terekam di setiap benak rakyat Acheh ketika aktivis seperti M. Nazar berkoar dengan air ludah yang berbuih sewaktu berlakon tentang perjuangan demi keadilan, kebebasan, demokrasi dan bersumpah memperjuangkan semua hak bangsa Acheh. Namun hanya beberapa tahun berselang, ketika kuasa berada di tangannya, maka dari mulut yang sama telah terdengar kata-kata yang begitu mudah menjadikan bangsanya sebagai pelaku kriminal tanpa keinginan untuk meneliti penyebab di balik aksi tersebut.

Di lain pihak, para petinggi GAM oligarkhi yang hidup dari darah dan keringat rakyat di masa perjuangan, kini persis seperti babi hitam Napoleon yang ditulis Orwell, bermewah dan berfoya-foya dan bekerja sama dengan golongan penindas. Sementara rakyat biasa dan bekas rekan seperjuangan hanya memakan angin dan mimpi. Malah tiada pembelaan yang didapat sekiranya mereka diterkam oleh pasukan anjing dan milisi, seperti apa yang terjadi di Atu Lintang.

Ketika mereka (bekas gerilyawan) mengambil jalan pintas akibat kecewa dan putus asa, para petinggi GAM oligarkhi telah menuduh mereka sebagai anti perdamaian, perampok dan penjahat. Sedangkan kesalahan atas kebijakan yang dibuat oleh para petinggi Oligarkhi, seperti takluk di Helsinki dan perkara dana reintegrasi yang sumbat, dengan mudah terlupakan.

Lantas Squealer, atau Harmoko-Harmoko yang bekerja untuk Pimpinan GAM oligarkhi, masih terus menipu tanpa rasa malu, bahkan mereka masih mengaku memperjuangkan rakyat banyak dan kemerdekaan Acheh, sekalipun mereka telah menjadi budak penjajah.

***
Hikmah lain dari kisah Ladang Binatang ini menjelaskan bahwa pada hakikatnya kekuasaan itu sangat berbahaya, apatah lagi jika ianya tidak terkawal. Hukum dan pelaksana hukum tidak berarti jika ia tidak diawasi. Kita memerlukan hukum, pelaksana, pengawal serta rakyat yang memantau hukum dan keseluruhan dari sistem kekuasaan. Unsur-unsur itulah yang alpa dalam kehidupan di Ladang Binatang maupun di ladang perjuang kita. Akibatnya, seperti apa yang terjadi terhadap penubuhan Ladang Indonesia, atau ketika Gerakan Acheh Merdeka mempunyai kuasa di Acheh, semuanya menjadi tidak terkontrol. Kesempatan itu telah dimanfaatkan oleh para tokoh licik seperti babi hitam Napoleon, untuk merebut kekuasaan dan menyingkirkan lawan politiknya, terutama yang jujur dan berpihak rakyat.

Demikian pula yang terjadi ketika kudeta sunyi di puncak organisasi GAM. Semasa para tokoh yang telah bersama Dr. Hasan Tiro sejak awal gerakan itu, harus tersingkir oleh konspirasi ala babi hitam Napoleon, yang melibatkan Zaini dan Malik sebagai otak konspirator. Lalu kepemimpinan beralih pada kebijakan yang mengutamakan perkauman di atas kebersamaan. Dari perjuangan rakyat menjadi perjuangan kelompok dan keturunan. Mengambil gaya klasik Napoleon, dan Soeharto di masa kudeta 1965, para konspirator itu telah menuduh pengikut setia Dr. Hasan sebagai pengkhianat-MP. Langkah itu diikuti pada tingkat yang lebih rendah di Malaysia, dan di Acheh, yang membuat beratus nyawa bangsa kita melayang. Di bunuh oleh bangsanya sendiri secara menyedihkan akibat propaganda para konspirator dan pengikutnya.

Begitulah…Suatu perjuangan akan berakhir tragik apabila tidak diperkuat dengan ketulusan dan pengawasan bersama. Perjuangan memang senantiasa susah dan berat, tetapi bagi kita yang berhasrat untuk memberi yang terbaik kepada kehidupan kita sendiri dan generasi nanti, roda perjuangan tak boleh terhenti. Hanya ada dua patah kata untuk penindasan dan penjajahan: lawan dan lawan!