Wednesday, May 21, 2008

Lagi...soal energi (Krisis Tenaga di Jantung Energi II)

Hari ini berita di sebuah harian terbitan Kutaradja menyiarkan tentang issu kekurangan bahan bakar minyak di di Nanggroe. Krisis itu mengakibatkan kegiatan ekonomi dan nafkah rakyat terhenti, terutama kaum nelayan dan angkutan umum yang merupakan urat nadi ekonomi.

Adapun krisis tersebut membuktikan kegagalan sistem pemerintahan indonesia di Acheh. Meskipun self-government yang katanya memberi hak pengelolaan lebih besar bagi rakyat Acheh, namun kenyataan yang terlihat hari ini sedikitpun tak dapat mendamaikan rakyat.

Kekurangan minyak dan aksi menimbun minyak oleh para lintah darat dapat terjadi di daerah perang dan tidak ada sumber minyak, namun di Acheh tidak demikian. Dengan kapasiti minyak yang ada, selayaknya Acheh mempunyai beberapa kilang penyulingan minyak, yang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat, tetapi juga bisa menyerap tenaga kerja dari putra-putri Acheh.

Di tanah yang kata Marti Ahtisaari perdamaian di sini berjalan dengan baik. Tetapi situasi yang nyata adalah rakyat terus berada dalam resah akibat hukum yang tak berjalan semestinya, aparatus negara dan militer masih memainkan peran dalam kejahatan yang menggangu penyaluran komoditi. Dari itu, rakyat selalu mendapati sejumlah harga tidak menentu dan tidak ada suatu aturan yang ditegakkan.

Dalam situasi seperti ini, seharusnya rakyat Acheh mengambil tindakan bersama untuk membentuk perusahan minyak sendiri dan menghentikan monopoli Pertamina di Acheh, agar dapat memenuhi kebutuhan seluruh bangsa Acheh akan energi.

0 comments: